Puya ke Puya

Puya ke Puya Surga diciptakan karenaSetelah puluhan tahun kau menunggu kini kau telah berjalan ke surga Ketika hampir tiba ketika kutanyakan kenapa surga diciptakan kau hanya bisa diam Untuk apa kau berjalan Kau

  • Title: Puya ke Puya
  • Author: Faisal Oddang
  • ISBN: 9789799109507
  • Page: 271
  • Format: Paperback
  • Surga diciptakan karenaSetelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan kenapa surga diciptakan kau hanya bisa diam Untuk apa kau berjalan Kau juga tidak tahu Dasar manusia Kau hidup hanya untuk mati Jika seperti itu, betapa kasihan kau, saya dan leluhur kau yang lain, tentu sangat kecewa Tak pantas kauSurga diciptakan karenaSetelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan kenapa surga diciptakan kau hanya bisa diam Untuk apa kau berjalan Kau juga tidak tahu Dasar manusia Kau hidup hanya untuk mati Jika seperti itu, betapa kasihan kau, saya dan leluhur kau yang lain, tentu sangat kecewa Tak pantas kau berjalan ke tempat suci ini tak pantas kau menjadi orang Toraja yang kami banggakan.Pulanglah, pulanglah dulu, tanyakan kepada kawa kau yang lain, tanyakan kepada semua orang Kenapa surga diciptakan

    • Unlimited [Fantasy Book] ↠ Puya ke Puya - by Faisal Oddang Ã
      271 Faisal Oddang
    • thumbnail Title: Unlimited [Fantasy Book] ↠ Puya ke Puya - by Faisal Oddang Ã
      Posted by:Faisal Oddang
      Published :2019-01-11T16:50:50+00:00

    About “Faisal Oddang

    • Faisal Oddang

      Faisal Oddang lahir di Wajo, 18 September 1994 Merupakan mahasiswa sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin Selain menulis novel, juga menulis cerpen, puisi dan sesekali esai yang tersiar di media cetak seperti Fajar, Lombok Post Kompas dan Tempo, dll Menulis kumpulan puisi Perkabungan untuk Cinta Basabasi dan Manurung GPU serta novel Puya ke Puya Kepustakaan Populer Gramedia yang menjadi salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014 dan menjadi novel terbaik 2015 versi Majalah Tempo.Mendapatkan penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari Pemerintah Thailand, Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2015, Tokoh Seni Tempo 2015Juga diundang ke festival sastra seperti Ubud Writers and Readers Festival 2014, Salihara International Literary Biennalle 2015 dan Makassar International Writers Festival 2015 Surat menyurat bisa melalui faisaloddang gmail

    926 thoughts on “Puya ke Puya

    • Saya masih mengingat betul betapa goosebump saat Faisal Oddang diumumkan sebagai cerpen terbaik Kompas Juni 2015 lalu.Saya merinding karena di usianya yang sangat muda, prestasi dan dedikasi sastranya perlu diacungi jempol. Benar-benar generasi sastra muda yang menjadi masa depan cerah Indonesia. (Saya jadiingat Linda Christanty, yang di usia 19 tahun, cerpennya menjuarai lomba cerpen KOMPAS dan dimuat di harian yang sama)Sekarang, saya berhasil membaca novel Puya ke Puya yang menjadi juara ke-4 [...]


    • 4.5/5Sengaja dikurangi 0.5 bintang gegara typo-nya yang bertebaran :(Review lengkap (yang cukup panjang) bisa dibaca di sini: ariansyahabo/20


    • Setiap satu ayunan kaki manusia, ia tengah berjalan pergi seklaigus menuju pulang. Orang-orang hidup hanya untuk mati, begitulah. Semakin kau berjalan menjauh, semakin maut berjalan mendekat. Dan Tuhan menciptakan surge bagi para pejalan. Entah karena apa…Rante Ralla meninggal dunia. Sebagai seorang tetua adat dan bangsawan di Kampung Kete Kesu Toraja, maka dia harus dimakamkan dengan adat Rambu Solo’. Hanya saja biayanya tidak sedikit. Dibutuhkan 24 kerbau dan ratusan babi untuk mengantarny [...]


    • Jarang saya menemui cerita yang menarik perhatian di sepanjang tahun 2015 ini. Dan "Puya ke Puya" rupanya membetot perhatian saya selama dua hari penuh ketika membacanya. Dari awal ketika membuka halaman demi halaman, saya mencoba menurunkan ekspektasi. Yah, karena beberapa kali saya terjebak overrated buku-buku yang dikatakan 'bagus'. Tapi, tidak untuk "Puya ke Puya". Saya sudah jatuh cinta semenjak di halaman pertama hingga halaman-halaman berikutnya yang selalu bikin saya terkejut beberapa ka [...]


    • aku akui Faisal Oddang menulis dengan bagus sekali. dan hal ini juga yang menyebabkan aku hendak memberi nilai lebih untuk novel ini. barangkali empat bintang. terutama oleh cara bercerita Faisal yang benar-benar enak dan bagus. pergantian tokoh melalui sudut pandang orang pertama dari tiga orang: Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla masing-masing disuarakan berbeda. tentunya hal ini membuat aku takjub. kemampuan menulis Faisal--yang masih seumuran aku--sudah hebat begitu. aku paling suka ke [...]


    • Menggigit. Tragis. Komunikatif. Eksploratif. Dengan gaya bahasa dan cara bertutur pada penokohan yang tak biasa, membuat karya terbaik DKJ ini sedap dinikmati. Menggiring pembaca ke jalur terdalam satu budaya Toraja yang tidak banyak diketahui orang. Jika non-Toraja hanya menikmati hasil suatu budaya, merekam dalam mata dan ingatan, tapi tidak dalam karya ini. Kita dipaksa menjadi seorang Torajan yang berdiri pada lini tengah yang diapit dua lapis kehidupan: mempertahankan adat dan berjalan seir [...]


    • Sepertinya baru kali ini aku membaca novel bertema lokalitas budaya daerah yang konfliknya begitu kompleks. Salut dengan Faisal Oddang yang bisa menjalin cerita semenarik ini. Aku suka cara bertuturnya yang unik dengan penggunaan tanda * dan kurung () untuk membagi sudut pandang Rante Ralla, Allu Ralla, dan Maria Ralla. Semua porsinya pas, dengan napas bercerita yang berbeda dari masing-masing tokoh.Menurutku, Fai berhasil menyajikan sebuah paradoks lewat rasionalitas Allu Ralla yang kadang kera [...]


    • Buku ini parah gila.Saya pernah nonton si penulis membacakan karyanya yang lain di suatu kesempatan, dan saya takjub akan pembacaan waktu itu. Waktu itu saya belum baca ini, dan emosi yang sama juga melanda saya saat membaca ini. Gila.Cerita ttg Tanah Toraja dan kematian ini sungguh menyajikan beraneka ragam imajinasi. Cara berceritanya juga dalam kecepatan yang saya sukai.Dan si penulis lebih muda dari saya. Haha


    • Overall, bagus, tapi ada satu hal yang sangat mengganggu saya di bab terakhir saat pembalasan dendam kepada Malena yang dilakukan Allu dengan mendeskripsikan perkosaan begitu sadis. Semoga penulis bisa sedikit merevisinya di edisi terbaru nanti.


    • Seperti membaca "Upacara" milik Korrie, kuat berkarakter. Hingga saya marah kepada penulisnya mengapa menciptakan Siti dengan tabiat yang begitu.


    • Biaya pemakaman yang berharga mahal, adat istiadat vs modernisme, idealisme yang terpaksa digadaikan, pengkhianatan atas cinta, dendam yang memakan banyak korban.Jadi, kenapa surga diciptakan?


    • Resensi lengkapnya: bukuhapudin/201Penilaian bagus terhadap novel Puya Ke Puya ini, sudah saya tahu dari lama. Selain membawa rasa lokal, masyarakat Toraja, novel ini menggali banyak sisi kehidupan. Berangkat dari kematian Rante Ralla yang mengharuskan anak sulungnya, Allu Ralla, menggelar upacara kematian, cerita digiring ke berbagai lini. Puya sendiri maknanya alam tempat menemui Tuhan (hal.3).Upacara kematian atau yang disebut Rambu Solo, bisa menelan ratusan juta untuk melaksanakannya. Allu [...]


    • Pada saatnya tiba nanti, kita tak lagi mampu saling mengindrai. Sebelum semuanya terjadi, mari menuntaskan pertemuan. Biar rindu tak perlu mengusik. Atau, bila kau memang senang menjadi perindu, kita tak usah bertemu. Paling penting, yang fana adalah waktu, kita abadi. Dukamu juga.Tapi, tunggu, surga diciptakan karena ? Jangan bertanya kenapa sebab saya pun tak tahu apa jawabnya.*** Gila betul Faisal Oddang ini. Setelah sukses di MIWF, Sea-Write Award, Cerpen Kompas, Sayembara DKJ, baru-baru ia [...]


    • Sambil berpilek ria, saya bisa menyelesaikan buku ini semalam. Dan menyadari betapa Faisal Oddang adalah penjahit yang ulung.Saya membaca Rain dan Tears dan berbisik di dalam hati, dia berubah banyak dan entah bagaimana kerja kerasnya, kegigihannya untuk mencapai level setinggi ini.Sastra bagiku selalu mengenai invensi dan konvensi. Sebagai suatu penemuan, Oddang mengajariku karena Puya ke Puya adalah penemuannya yang berhasil. Ini adalah tema yang baru, segar, setidaknya buatku.Cara menulisnya [...]


    • Jujur, saya tak begitu menikmati cerpen Fai yang dinobatkan menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2014. Namun, meski tema yang diangkat sama, Puya ke Puya jauh lebih asyik. Gaya berceritanya pun asyik. Kita akan diajak menyelami adat Toraja, dan memahami bagaimana adat bermanfaat bagi kelangsungan hidup bermasyarakat. Pergantian PoV yang menurut saya unik, karena saya belum pernah membaca yang semacam ini. Sayangnya, typo bertebaran di mana-mana. Ini cukup mengganggu.


    • Salah satu novel terbaik di tahun 2015. Dengan membaca novel ini, saya jadi lebih tahu mengenai kebudayaan dan cara pemakaman orang Toraja. Selain unsur budaya, Faisal Oddang juga memasukkan percintaan dan keanehan yang bisa kita jumpai di dunia modern seperti sekarang ini.



    • buku ini tandas saya baca dalam sehari. luar biasa memang sihir yang diberikan oleh Faisal Oddang dalam Puya Ke Puya. saya tak menyangka budaya Toraja yg sebenarnya tak begitu asing bagi saya, diramu menjadi begitu keren nan indahnya oleh Faisal Oddang hingga saya tak sadar telah tiba di lembar akhir. Banyak diantara Anda pasti telah mengetahui bahwa suku Toraja memiliki tradisi unik dalam memperlakukan kerabat yang berpulang. Dalam buku Puya Ke Puya ini, Faisal Oddang memberikan kita gambaran k [...]


    • Direkomendasikan oleh Dwika, sebenarnya saya tidak berharap apapun terhadap novel ini. Malah pikir saya pasti mati bosan membacanya karena saya curiga bahasanya bakal terlalu "nyastra".Eng ing engSaya jatuh cinta, saya marah, saya jijik, dan saya sedih karena novel ini.Jatuh cinta pada pengorbanan Tina Ralla yang berusaha sekuat tenaga menjaga persatuan keluarganya, marah pada Tina karena "diam" yang dia anggap menyelamatkan keluarganya justru menjadi bom waktu pada akhirnya, dan sedih ketika pa [...]


    • Ibarat nasi bungkus, Puya ke Puya adalah nasi bungkus dengan kemasan yg rapi dan menarik (narasinya unik dan mengalir. Dikisahkan dari beberapa sudut pandang yg berbeda, cara penulis memindah-mindahkannya dari satu orang ke orang yg lain buat saya keren maksimal) nasi yg padat (plotnya oke. Karakter utamanya pun, terutama Allu, terasa hidup) dan lauk yg royal (latar belakang budaya yg diangkat disini. Super!) Sayang, saat dibawa ke rumah ada beberapa bagian dari bungkusannya yg robek dan membuat [...]


    • Novel ini membuktikan bahwa karya seseorang bisa lahir dari siapa saja. Saya tidak mengira ternyata Faisal Oddang seumuran saya, namun bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Novel ini mengangkat budaya orang Toraja dengan sudut pandang yang berubah-ubah. Novel ini mengajarkan mengenai Budaya Toraja yang mungkin agak sulit kalau dijelaskan secara penelitian pada umumnya.


    • Menurutku dari keempat pemenang taun 2014, novel ini yang paling unik. Mengangkat lokalitas, justru keunikannya adalah alam kepercayaan leluhurnya dan upacara adat yang biayanya tak murah. Rasanya bercampur antara yang urban dengan yang astral dan keindonesiannya sangat kental. pantas jika diganjar penghargaan majalah Tempo.


    • Saya suka dengan cara Faisal menggunakan peralihan sudut pandang penceritaannya. Begitu halus dan tidak membuat risi. Dengan pemilihan sudut pandang yang seperti ini membuat peristiwa yang dikisahkan Faisal mencapai efek yang tepat. Kedalaman karakter juga berhasil disampaikan Faisal. Cukup pantas lah jadi pemenang IV DKJ.


    • Suka dengan gaya bercerita orang ketiga yang serba tahu tapi berpindah-pindah antara tokoh Allu, Rante dan Maria Ralla. Surealis yang kaya budaya Toraja. Berani dan liar.Walaupun beberapa kata banyak yang typo.


    • Favorite Quotation: "Jika tidak ada lagi yang bisa kauselamatkan dari hidup ini, kematian akan membantumu."


    • Puya ke Puya: Pertanyaan Tentang SurgaKenapa surga diciptakan?Sebagai manusia yang masih hidup, seharusnya kita mengetahui alasan surga diciptakan. Karena surga adalah tujuan akhir dan tempat dimana manusia akan menjalani kehidupan setelah kematian secara abadi. Di surga pula kita akan bertemu para leluhur.Allu Ralla seorang anak Toraja yang baru saja kehilangan ambenya –atau biasa disebut ayah- dan rambu solo –upacara adat kematian masyarakat Toraja- harus digelar. Sebagai keluarga bangsawa [...]


    • Kisah dalam novel ini berawal dari kematian Rante Ralla, seorang pemimpin adat di Desa Kete’. Kematian tersebut bisa dibilang membawa banyak persoalan bagi keluarga yang ditinggalkan, khususnya Allu Ralla yang merupakan keturunannya.Malang tidak bisa ditolak, lahir sebagai keturunan bangsawan, maka saat mati pun harus memiliki tempat tertinggi, dengan upacara kematian paling sempurna. Mengorbankan puluhan kerbau dan ratusan babi, yang diharapkan bisa menjadi tunggangan dan pengiring saat berja [...]


    • Saya sudah punya buku ini dari dua tahun yg lalu, tapi karena kebiasaan buruk saya yang suka menimbun buku, jadinya baru dibaca bulan lalu. Dan sampai sekarang masih terkagum-kagum sama isi buku ini sih. Bercerita tentang dilema seorang mahasiswa Unhas asal Toraja, antara mengikuti aturan adat (yang rumit dan membutuhkan banyak uang) atau idealisnya sebagai seorang terpelajar ketika ingin memakamkan Ayahnya yg adalah ketua adat di kampung itu. Betul-betul membuat pembaca serasa 'masuk' dan meras [...]


    • Very good novel. Telling much about Sulawesi tradition in burrial the death. After read this novel, I wanted to fly there just to see the cemetery. What a nice story.


    • (3 komponen Stephen King dalam buku Puya Ke Puya)Saya mungkin orang kesekian yang mengakui buku ini sangat layak dan harus untuk dibaca. tiga komponen yang dimaksud Stephen King dalam tips menulisnya telah benar-benar Penulis kuasai, tersebutlah:1. NarasiDengan berlatar budaya toraja, Penulis menggambarkan cerita dari satu ke lainnya dengan bahasa dan alur yang apik."Seperti Hitler meyakinkan bahwa orang Yahudi harus habis. Atau taruhlah seperti Orwell meyakinkan bahwa binatang tidak lebih binat [...]


    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *